Posts RSS Comments RSS 4 Posts and 58 Comments till now

Menjadi Guru Baru

Maaf, sudah lama tidak menulis, soalnya banyak keperluan yang harus diselesaikan. Tulisan kali ini tentang pengalaman pertama bertugas sebagi pendidik di SMA Metro Lampung tengah awal cawu 2 tahun ajaran 1967 (Mei 1967).

Di Sekolah ini saya diberi tugas mengajar mata pelajaran Biologi untuk kelas I dan II jurusan IPA dan Ilmu Pasti, sebagai guru baru pertama masuk kelas, saya bukan dari Fak. Keguruan tapi dari Fak. Biologi UGM baru lulus tingkat 1. Dan baru pertama kali berhadapan dengan siswa SMA. Untuk itu saya harus menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya, malam sebelum mengajar saya membaca buku pelajaran biologi dan menuliskan bahan yang akan disampaikan kepada siswa kelas I.

Ternyata, setelah saya ajarkan, tidak ada masalah dan tampaknya murid sangat senang dengan cara saya mengajar. Sehingga tidak tersasa telah berdiri di depan kelas selama 90 menit.

Saat mengajar untuk kelas II, ternyata kelas II IPA dan Ilmu Pasti dijadikan satu kelas, dalam ruangan yang cukup besar, jumlah siswa 60 orang. Sebagian siswa ada yang seumur dengan saya, sebagian lagi berpostur tubuh lebih tinggi dari saya. Akibatnya saat saya mengajar tidak dapat siswa yang duduk di belakang. Ada beberapa siswa yang belakangan termasuk anak yang sulit diajak “kompromi”. Untuk itu, diluar jam pelajaran beberapa siswa saya ajak bicara. Akhirnya pada minggu ke tiga saya merasa agak nyaman mengajar di kelas ini.

Sebagai seorang guru baru, saya berusaha mencari jati diri :

  • Bagaimana saya bisa mengajar dengan baik
  • Bagaimana saya dikenal oleh siswa.
  • Bagaimana saya bisa berkomunikasi dengan rekan-rekan guru yang lebih senior, sehingga saya bisa diterima di sekolah itu.

Pendek kata, saya berusaha diakui oleh lingkungan.

Pengalaman yang sangat menyentuh hati, saat saya memberikan ulangan (ujian) yang pertama. Saya sangat terkejut, ternyata kondisinya sangat jauh berbeda ketika saya mengikuti ulangan di SMA. Silahkan tebak apa yang terjadi…. :D

Kok Jadi Guru???

Pada waktu saya menjadi siswa SMA Teladan Yk, saya tidak bermimpi menjadi guru. Demikian juga teman-teman saya, tidak satupun yang bercita-cita menjadi guru. Apalagi pada waktu itu nasib guru sedang sangat buruk. Kata guru saya pada waktu itu, beliau tidak pernah makan dengan lauk daging. Tetapi hanya mampu membeli tulang-tulang (Jawa: balungan) untuk campuran membuat sup.

Ketika saya kuliah di Fakultas Biologi UGM pada semester 3, saya ditawari untuk mengikuti program PTM (Pengerahan Tenaga Mahasiswa), yaitu program yang menugaskan seorang mahasiswa tingkat II UGM untuk menjadi guru SMA di daerah terpencil. Pada waktu itu, saya ragu-ragu…tetapi akhirnya saya menerima tawaran itu karena pada saat itu kondisi politik negara sedang kacau (pasca G-30-S/ PKI) sehingga sangat mempengaruhi proses pendidikan di perguruan tinggi. Setelah 3 tahun menjadi guru, saya merasakan kenikmatannya. Semestinya, setelah menyelesaikan program itu saya harus melanjutkan kuliah di Biologi UGM. Namun saya memilih pindah ke IKIP Yogyakarta supaya dapat menjadi guru yang baik.

Kalau saya renungkan lagi, kemungkinan memang kehendak Tuhan lah…saya harus menjadi guru..

Pendidikan dan Guru

Pendidikan adalah kegiatan mengelola manusia dari bayi hingga tua, meliputi pendidikan fisik (raga)dan jiwa (psikis) yang hasilnya berupa peningkatan mutu fisik dan jiwa. Pendidikan bisa ditempuh melalui jalur formal di sekolah dan .pendidikan informal di masyarakat.

Pendidikan formal dilaksanakan pada unit-unit sekolah mulai dari pre-school hingga perguruan tinggi. Banyak faktor yang mempengaruhi pendidikan di sekolah antara lain sarana, prasarana, murid, guru, orang tua murid, lingkungan dan lain-lain.

Menurut hemat saya, diantara faktor-faktor tersebut yang paling dominan adalah guru. Guru adalah manusia yang megelola manusia di sekolah baik fisik maupun psikis. Tugas guru di sekolah ada dua macam, yang pertama, transfer ilmu pengetahuan kepada murid sesuai dengan jenjang sekolahnya dan mata pelajaran masing-masing, kegiatan inilah yang disebut kegiatan belajar mengajar (KBM).

Kedua, tranfer kepribadian dalam KBM secara sengaja atau tidak sengaja murid banyak memperhatikan sikap dan sifat gurunya. Sehingga sedikit banyak murid akan mencontoh pembimbingnya.

Untuk mengukur keberhasilan di sekolah diadakan evaluasi atau penilaian. Hasil evaluasi tersebut sebagai parameter keberhasilan murid dan guru dalam mengikuti KBM di sekolah. Jadi, menurut hemat saya, berhasil atau tidaknya seorang murid banyak bergantung kepada peranan guru walaupun tidak menutup kemungkinan dipengaruhi faktor-faktor yang lain. Nah, bagaimana pendapat anda tentang peranan guru terhadap keberhasil kegiatan belajar-mengajar secara formal di sekolah?

Menuangkan Pengalaman dan Berbagi Melalui Blog

Saya bertugas sebagai guru mulai 1967 hingga purna tugas pada tahun 2006. Banyak pengalaman selama bertugas, suka, duka, mengenal bermacam-macam karakter anak didik dan pergantian kurikulum.

Profesi sebagai guru adalah merupakan kehormatan tersendiri. Karena medidik merupakan suatu proses yang mencerdaskan generasi penerus. Kebanggaan seorang guru apabila anak didik berhasil menjadi orang yang berguna bagi dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat.

Kini, saya memasuki purna tugas (pensiun), untuk mengasah diri dan menuangkan pengalaman selama bertugas maka saya memberanikan diri untuk membuka blog pribadi ini. Sehingga dapat berbagi dengan rekan-rekan guru yang lain, mantan siswa dan pengunjung blog saya.

Ternyata beberapa siswa saya juga memiliki blog. Seperti murid saya di SMA Taruna Nusantara, Romi Satria Wahono, Moh. Arif Widarto, Andy Arvianto, mungkin masih banyak lagi alumnus SMA TN dan mantan siswa saya yang lain juga memiliki blog. Jadi melalui blog ini bisa menjalin kembali silaturahmi dengan siswa-siswa saya atau mungkin dengan rekan-rekan guru baik di SMA TN maupun institusi pendidikan lainnya.